Search This Blog

BMKG soal Banjir Bekasi: Tata Kelola Air dan Tata Ruang Harus Dibenahi

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
BMKG soal Banjir Bekasi: Tata Kelola Air dan Tata Ruang Harus Dibenahi
Mar 10th 2025, 14:01, by Fadjar Hadi, kumparanNEWS

Banjir merendam di perumahan Duren Jaya, Bekasi, Rabu (5/3/2025). Foto: kumparan
Banjir merendam di perumahan Duren Jaya, Bekasi, Rabu (5/3/2025). Foto: kumparan

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyoroti dan memberikan catatan terkait banjir yang melanda Jabodetabek utamanya Bekasi pada 5 Maret. Bekasi lumpuh imbas banjir di mana-mana.

BMKG menuturkan, sebenarnya sejak 3 Maret, mereka sudah memprediksi akan ada cuaca ekstrem di Jabodetabek.

"Dari citra satelit, kami tangkap awan-awan hujan bisa terlihat pada tanggal 3 (Maret), sebelum banjir itu sudah terdeteksi. Itu awan skala besar ratusan kilometer ukurannya menutup hampir seluruh wilayah Jabar," kata Dwikorita dalam rapat koordinasi di Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (103).

"Sehingga kami gencarkan peringatan dini setelah itu kami telepon BPBD di lokasi terdampak yang tertutup awan skala besar," tambah dia.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Selain di Pulau Jawa, cuaca ekstrem juga terjadi di Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan. BMKG melihat ada anomali sebab curah hujan di Sumsel, Lampung dan Kalimantan lebih tinggi dibanding di Bekasi. Akan tetapi, yang kebanjiran adalah Bekasi.

"Ekstrem ini di Sumsel dan Lampung, kemudian di Kalimantan, itu lebih besar, paling kecil di Jabar. Menariknya yang jadi pelajaran bagi kami justru yang banjirnya dahsyat kenapa yang curah hujan relatif paling rendah?" tanya Dwikorita.

"Yang di Kalimantan dan Sumsel, Lampung, harusnya lebih dahsyat, harusnya, tapi tidak sampai banjir sampai ke atap," tutur dia.

Warga mengamati mobil dan motor yang terdampak banjir luapan Kali Bekasi di Sekolah Permata Sakti di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatirasa, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3/2025). Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Warga mengamati mobil dan motor yang terdampak banjir luapan Kali Bekasi di Sekolah Permata Sakti di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Jatirasa, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3/2025). Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Pantauan udara terkini bencana banjir di Bekasi. Foto: Dok. Istimewa
Pantauan udara terkini bencana banjir di Bekasi. Foto: Dok. Istimewa

Berkaca dari fakta ini, BMKG menduga adalah masalah dalam sistem lingkungan dan tata kelola ruang di Jabodetabek. BMKG meminta kepala daerah untuk membenahi masalah ini.

"Karena ada Bapak pimpinan daerah, mohon jadi perhatian bersama kekhawatiran kami, barang kali sistem lingkungan yang ada di Jabar atau Jabodetabek memang sudah perlu segera dibenahi artinya terbukti di lokasi lain ya dahsyat tapi enggak apa-apa," kata Dwikorita.

"Bekasi curah hujan tahun 2020 itu jauh lebih tinggi, tahun ini, Bekasi hanya 140 mm dibandingkan 200 mm di 2020, tetapi dampaknya jauh lebih dahsyat tahun ini. Jadi data dan fakta tahun ini pengaruh lingkungan dan sistem tata kelola air dan tata ruang, ini mohon jadi perhatian," tutur dia.

Media files:
01jnjg1vtekv7gzq8th2j73vq3.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar