Search This Blog

Penulis Mati di Kotak AI

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Penulis Mati di Kotak AI
Mar 15th 2026, 12:00 by Viktorius P Feka

"Bagaimana nasib (profesi) penulis yang bertahun-tahun lamanya menekuni dunia tulis-menulis, seiring menjamurnya AI menulis di dunia internet?"
Ilustrasi AI membantu manusia menulis. Foto: Shutterstock
Ilustrasi AI membantu manusia menulis. Foto: Shutterstock

Pertanyaan di atas merujuk pada kesadaran kolektif kita akan posisi (profesi) penulis, atau kegiatan menulis manusia yang saat ini secara gradual mulai diambil alih oleh teknologi—dalam hal ini, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Pertanyaan tersebut mengguncang masa depan penulis atau aktivitas penulis yang seyogianya dilakukan oleh manusia, yang kini mulai dikerjakan oleh AI. Hal ini serentak mencetuskan hipotesis bahwa profesi penulis mungkin sudah takkan lagi dibutuhkan di masa depan.

Dalam satu atau dua dekade mendatang, saya yakin, profesi ataupun kegiatan menulis yang sejatinya dilakukan oleh manusia akan mulai menyusut, bahkan sama sekali tak ada. Penulis sudah tidak akan diberdayakan lagi. Lambat laun, mereka yang berprofesi sebagai penulis bakal beralih ke profesi lain. Hal ini karena kemunculan pelbagai AI yang menawarkan kemudahan dalam menulis.

Dengan AI, menulis apa pun itu—dalam berbagai genre—akan semakin mudah. Hanya dengan memasukkan prompt (instruksi, pertanyaan, atau kalimat teks yang tepat) ke dalam ruang percakapan AI, ia akan membantu menulis. Pekerjaan menulis menjadi tidak lagi rumit. Siapa pun bisa menjadi penulis asalkan mahir memaksimalkan AI.

AI—semisal ChatGPT, Claude, DALL-E, Perplexity AI, Jenni AI, Paperpal, Grammarly, Iris AI, Yamu AI, dll—selalu siap membantu menulis. Yang lihai dalam menggunakan AI—meski awalnya tak terbiasa atau belum pernah menggeluti dunia tulis-menulis—dapat dengan mudah menjadi penulis.

Ilustrasi manusia di depan layar komputer yang tampak sedih di kala menulis. Serentak, layar komputer memancarkan cahaya futuristik dengan teks-teks yang dihasilkan oleh AI. Foto: Generated by AI
Ilustrasi manusia di depan layar komputer yang tampak sedih di kala menulis. Serentak, layar komputer memancarkan cahaya futuristik dengan teks-teks yang dihasilkan oleh AI. Foto: Generated by AI

Ia menjadi penulis dadakan nan serba bisa. Ia takkan pernah merasakan lika-liku, suka duka menulis sebagaimana adanya. Ia hanya tahu memasukkan prompt ke dalam kotak AI, lalu muncullah tulisan sesuai dengan yang dikehendaki. Begitu dan begitu, terus berulang.

AI seperti telah menjadi pabrik menulis paling purna. Ia tak hentinya memproduksi tulisan kala diminta. Ia tak kehabisan ide saat menulis, meski kerap terdapat deretan halusinasi di sana.

Ia menyediakan data atau daftar pustaka, walau kadang nirvalid dan tunafakta. AI seperti telah menjadi mesin menulis tepercaya, meski ia sedang menodongkan belati kemalasan dalam berpikir kritis. Ia menawarkan kecepatan dalam menulis, tetapi serempak memincangkan nalar kritis.

Di era AI saat ini, fenomena ini tak terelakkan. Yang mahir menggunakan AI akan muncul sebagai penulis produktif. Ia akan membaptis dirinya sebagai penulis ulung. Ia bakal menobatkan dirinya atau dinobatkan sebagai penulis multitahu. Padahal, menulis adalah keterampilan tertinggi dalam bahasa yang memerlukan latihan berulang kali.

Ia tidak instan selintas kilat. Ia perlu diasah terus-menerus. Ia butuh waktu dan kesabaran. Penulis yang andal tidak lahir dari rahim AI. Ia lahir dari rahim keuletan, kegelisahan, dan kesunyian. Ia tercipta dari lempung praktik tiada henti. Sebab, menulis adalah proses panjang dari percintaan antara ide dan pergumulan batin di ranjang kata.

Ilustrasi menulis. Foto: Shutterstock
Ilustrasi menulis. Foto: Shutterstock

Menulis senantiasa melintasi jalur panjang, mulai dari pemetaan ide hingga publikasi. Ia tidak pernah mengambil jalan pintas bernama AI. Ia tak sesederhana sebagaimana AI menulis, yakni hanya memasukkan prompt, lalu tampaklah tulisan. Tidak. Tidak demikian. Ia tak secepat mesin AI. Ia butuh waktu yang cukup lama.

Menulis, dalam taksonomi Bloom, berada pada level tertinggi C6 (mencipta)—lihat Feka (2025), dalam bukunya Merohanikan Kata: Sekumpulan Opini. Dan karenanya, ia tak semudah menepuk nyamuk. Ia tak segampang menginjak semut. Menulis adalah kata kerja yang memerlukan tindakan dan proses panjang, bukan sekali mengklik, lalu lahir sebuah tulisan.

Menulis bukanlah bawaan sejak lahir (innate), bukan pula pemberian (gift). Ia adalah latihan berulang kali yang melibatkan penemuan ide, keterampilan membaca, pengamatan mendalam, pergulatan batin, kekuatan analisis dan interpretasi, serta kompetensi bahasa.

Seseorang tidak terlahir sebagai penulis, tetapi sebagai yang berlatih menulis. Seseorang yang menulis dengan hanya memerah atau memeras AI sangatlah tak layak disebut penulis.

Hal ini karena keterampilan menulis merupakan kepandaian yang sangat berguna bagi orang lain, yang dapat melahirkan berbagai gagasan untuk dibaca masyarakat luas—lihat Supriyadi (2018), dalam bukunya Teknik Menulis Dasar—sehingga perlu ketelitian dalam mengungkapkan gagasan yang benar serta kecermatan dalam menyajikan data dan fakta.

Ilustrasi anak menulis. Foto: Thinkstock
Ilustrasi anak menulis. Foto: Thinkstock

Menulis merupakan sebentuk kepandaian merangkai kata menjadi wacana yang utuh, dan hal ini memerlukan tahapan yang panjang. Inilah potret menulis yang sesungguhnya, bukan hasil generate AI. Tulisan yang dihasilkan manusia memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi, nalar kritis yang ketat, sementara tulisan AI "meninabobokan" otak dan mengamputasi nalar kritis manusia—manakala tak disertai dengan verifikasi-validasi.

Lebih jauh, menulis itu seni—dikatakan seni bila benar-benar dikerjakan oleh manusia—karena menulis melibatkan proses berpikir yang logis, kreatif, pemilihan kata yang indah, penuangan ide yang runtut (kohesif-koheren), pengungkapan fakta, pengalaman dan perasaan, serta keuletan latihan.

Inilah kenapa Wijana (2025) dalam bukunya Renik-Renik Linguistik menyentil bahwa menulis adalah memamerkan kepandaian sekaligus kebodohan. Seorang penulis bisa saja terlihat pandai, serentak bodoh dari tulisannya. Inilah dua sisi dalam menulis.

Karenanya, supaya tidak terlihat bodoh dalam setiap tulisan yang dihasilkan, cara kerja instan via AI perlu ditekan. Mengandalkan AI sepenuhnya tanpa intervensi kerja manusia berarti mengantarkan diri pada panggung pertunjukan kebodohan. Menulis menggunakan AI tanpa check and recheck kebenaran karena hanya ingin mengejar kuantitas atau deadline publikasi akan mencetuskan penyebaran hoaks.

Bahwasanya, menulis itu tidak mudah dan instan. Ia ada di dalam proses yang panjang. Namun, kehadiran AI dewasa ini yang menawarkan instanisme menciptakan penulis-penulis dadakan nan "kretin", lalu memaksa penulis sejati mati di kotak AI.

Media files:
01gpg22f0x4cbbawh5mecfwd9d.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts