Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk memajukan jadwal pemberian vaksin campak pada bayi, meskipun Indonesia sedang menghadapi kejadian luar biasa (KLB) serta adanya peningkatan kasus di sejumlah negara.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Menurut Piprim, keputusan jadwal vaksinasi didasarkan pada berbagai penelitian mengenai kekebalan yang diterima bayi dari ibunya. Kekebalan alami tersebut diketahui masih bertahan hingga bayi berusia sekitar sembilan bulan.
"Jadi memang kekebalan yang dibawa dari ibu ya, itu berdasarkan penelitian masih ada sampai anak itu kira-kira sembilan bulan ya," ucap dr. Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).
Ia menambahkan, wacana untuk memajukan vaksin campak menjadi usia enam bulan sebenarnya pernah dipertimbangkan. Namun, berdasarkan data yang ada, kasus campak pada bayi di bawah usia sembilan bulan jumlahnya tidak sebanyak kasus pada anak yang lebih besar.
Oleh karena itu, jika vaksin diberikan lebih awal, dikhawatirkan justru menjadi tindakan yang tidak terlalu diperlukan.
Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock
"Jadi prioritasnya belum ke situ. Nanti kalau kita vaksinnya dipakai ke anak umur 6 bulan, padahal kasusnya nggak terlalu banyak justru akan melakukan sesuatu yang tidak perlu," tegasnya.
Sehingga, fokus utama pencegahan saat ini justru diarahkan pada kelompok usia yang paling banyak terdampak. IDAI menekankan pentingnya memastikan anak-anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal, terutama pada usia 9 bulan hingga 15 tahun, karena pada rentang usia tersebut kasus campak paling banyak ditemukan.
Ilustrasi vaksin campak. Foto: Shutter Stock
Dengan demikian, strategi yang saat ini diprioritaskan adalah meningkatkan cakupan imunisasi pada kelompok usia tersebut agar penyebaran campak dapat ditekan.
"Kita fokus di 9 bulan ke atas sampai 15 tahun karena disitulah yang memang paling banyak terkena campak sampai saat ini," tutup dr. Piprim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar