Laksamana Angkatan Laut AS Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS, menyampaikan pengumuman di atas kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln di Laut Arab pada 7 Februari 2026. Angkatan Laut AS/Handout via REUTERS Foto: Angkatan Laut AS/Handout via REUTERS
Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menghantam hampir 2.000 target di Iran saat konflik dengan Israel makin meluas di kawasan Teluk. Serangan ini memicu balasan Iran berupa gelombang rudal dan drone ke berbagai titik di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer dan fasilitas diplomatik AS.
Kantor berita AFP melaporkan, militer Israel pada Rabu (4/3) dini hari meluncurkan gelombang besar serangan terbaru ke berbagai wilayah Iran.
Beberapa jam sebelumnya, Iran menembakkan tiga rentetan rudal ke Israel yang menyebabkan seorang perempuan di Tel Aviv mengalami luka ringan.
Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, mengatakan hampir 2.000 target, termasuk 17 kapal Iran telah dihancurkan sejak Sabtu (28/2).
"Target kami adalah rudal balistik dan semua hal yang bisa menembak ke arah kami," kata Cooper dalam pernyataan video, seperti dilansir AFP.
Ia menyebut pengerahan militer kali ini sebagai yang terbesar dalam satu generasi.
"Kekuatan ini membawa daya tembak masif, lebih besar dari 'shock and awe' terhadap Irak pada 2003," ujarnya.
Dampak Serangan dan Reaksi Iran
Serangan gabungan AS dan Israel dilaporkan menewaskan 787 orang di Iran menurut Palang Merah Iran, meski angka itu belum dapat diverifikasi secara independen. Di sisi lain, Iran bersumpah akan membalas dengan harga mahal.
Kepulan asap yang disebabkan oleh serangan Iran terlihat di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu, (1/3/2026). Foto: AP Photo/Altaf Qadri
Drone dilaporkanmenghantam dekat Konsulat AS di Dubai hingga memicu kebakaran tanpa korban jiwa. Serangan juga menyasar Pangkalan Al-Udeid di Qatar serta fasilitas AS di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain.
Jenderal Garda Revolusi Iran Ebrahim Jabbari memperingatkan serangan lanjutan jika pusat-pusat utama Iran disasar.
"Jika musuh memutuskan menyerang pusat utama kami, kami akan menghantam seluruh pusat ekonomi di kawasan," tegasnya.
Komentar Gedung Putih
Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran sebenarnya ingin kembali berunding, tetapi menurutnya sudah terlambat.
"Mereka ingin berbicara, tapi ini sudah terlambat," kata Trump di Gedung Putih, sebagaimana dikutip dari AFP.
Trump juga mengklaim hampir seluruh kekuatan militer Iran telah dilumpuhkan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS telah memulai operasi tembur besar-besaran terhadap Iran, mengikuti serangan bersama Israel yang disampaikan sebagai upaya menumpas ancaman dari rezim Iran, Sabtu (28/2/2026). Foto: Dok. Donald Trump via Truth Social/Handout via REUTERS
"Hampir semuanya sudah dihancurkan. Kebanyakan orang yang kami incar sudah tewas," lanjutnya.
Di tengah lonjakan harga energi global, Trump menyebut Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia yang sebelumnya diancam akan ditutup Iran.
Meluas ke Lebanon
Konflik juga meluas ke Lebanon, ketika Hizbullah meluncurkan drone dan roket ke Israel sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran.
Israel membalas dengan serangan ke pinggiran selatan Beirut dan menyatakan tengah memindahkan pasukan untuk membuat zona penyangga di perbatasan.
Sebuah tank tempur utama Merkava Mark IV milik tentara Israel ditempatkan di sebuah posisi di sepanjang perbatasan antara Israel utara dan Lebanon selatan, Selasa (3/3/2026). Foto: Jalaa Marey/AFP
Cooper juga menyebut tidak ada kapal Iran yang berlayar di perairan Teluk.
"Saat ini tidak ada satu pun kapal Iran yang berlayar di Teluk Arab, Selat Hormuz, atau Teluk Oman," ujarnya, dikutip dari Reuters.
AS kini meminta warganya meninggalkan kawasan jika memungkinkan. Kementerian Luar Negeri menyebut sekitar 9.000 warga Amerika telah berhasil kembali ke negaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar