Astra Honda Motor (AHM) pamerkan dua motor listrik konsep di IIMS 2025. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan pentingnya kesiapan industriotomotif roda dua menghadapi perkembangan dan menyiapkan peta jalan atau road map untuk menghadapi tantangan masa depan.
"Ada semacam harapan dari pemerintah bahwa kita ingin industri sektor otomotif terutama kendaraan roda dua mulai menyusun road map yang lebih ketat," kata Faisol saat ditemui di Tangerang beberapa waktu lalu.
Ia menilai, disrupsi yang dihadapi industri akan semakin besar seiring perkembangan teknologi informasi. Terutama teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mengubah proses produksi dan model bisnis.
"Karena kita menghadapi disrupsi yang akan lebih besar lagi dengan perkembangan teknologi informasi, terutama yang berbasis AI," ujarnya.
Motor listrik Wuyang Honda E-VO yang meluncur di China. Foto: dok. Wuyang Honda
Menurutnya, langkah ini penting agar industri otomotif roda dua siap menghadapi berbagai kemungkinan di masa mendatang. Pemerintah ingin para pelaku usaha dapat beradaptasi lebih cepat.
"Sehingga industri atau para pelaku usaha bisa siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang," jelas Faisol.
Ia mencontohkan, negara-negara lain sudah mulai mengembangkan kendaraan nirawak untuk beroperasi di jalanan. Bukan tidak mungkin teknologi serupa akan diterapkan pada kendaraan roda dua di masa depan.
Motor listrik Polytron Fox 200. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
"Kalau negara-negara lain sudah mengembangkan kendaraan nirawak di jalanan, maka bukan tidak mungkin kendaraan roda dua pun akan dipasok teknologi yang sama, sehingga bisa menjadi tantangan untuk industri kendaraan roda dua di masa yang akan datang," kata Faisol.
Faisol menyebut, road map tersebut bisa disusun dengan target pencapaian dalam 10 tahun ke depan. Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah fase transisi dan konsolidasi selama dua hingga tiga tahun mendatang.
"Paling tidak road map ini bisa disiapkan dalam 10 tahun yang akan datang, yang mungkin kita harus bagi dalam tiga fase, yaitu fase transisi dan konsolidasi, barangkali ini kurang lebih 2-3 tahun ke depan," ujarnya.
Motor listrik Wuyang Honda E-VO yang meluncur di China. Foto: dok. Wuyang Honda
Pada fase ini, industri perlu memantapkan proses bahan baku dan ekosistem pendukung. Meski industri mesin pembakaran dalam (ICE) masih kuat, percepatan teknologi akan menjadi tantangan tersendiri.
Yang kedua adalah fase akselerasi dan pertumbuhan yang akan diwarnai perkembangan teknologi informasi. Faisol menilai, proses produksi akan semakin terintegrasi dengan teknologi digital dan kebutuhan infrastruktur seperti swap station untuk kendaraan listrik.
Ilustrasi uji coba swap battery motor listrik PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM). Foto: YIMM
"Yang kedua fase akselerasi dan pertumbuhan, saya kira kita juga akan mengalami pertumbuhan yang akan sedikit berbeda ketika teknologi informasi sudah menjadi bagian penting di dalam proses produksi sektor otomotif roda dua," ungkapnya.
Fase terakhir adalah kemandirian dan kepemimpinan industri dalam satu dekade mendatang. Indonesia diharapkan bisa menjadi kekuatan baru di sektor otomotif roda dua dengan teknologi masa depan.
"Dan yang terakhir kita berharap di fase 10 tahun terakhirnya adalah fase kemandirian dan kepemimpinan di mana kita bisa menjadi kekuatan baru di dalam industri otomotif sektor dan untuk kendaraan roda dua," tutup Faisol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar