Analis politik KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensat) menilai kemarahan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) terhadap kelompok relawan pendukung Presiden ke-7 Jokowi, Termul, merupakan hal yang wajar.
Menurutnya, reaksi JK muncul di tengah tuduhan yang menyerangnya terkait polemik ijazah Jokowi.
"Nah, terkait kemudian JK marah terhadap tuduhan Termul dan mengatakan bahwa dalam proses menjadi Presiden, JK juga memiliki andil, menurut saya ya wajar saja karena tidak seharusnya persoalan ini kemudian menjadi membesar begitu ya," ujar Hensat, Minggu (19/4).
Minta Relawan Bersikap Proporsional
Hensat menekankan pentingnya sikap proporsional dari para relawan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.Ia mengingatkan JK juga merupakan tokoh bangsa yang harus dihormati.
"Relawan atau Termul atau simpatisan menurut saya boleh saja memberikan pendapat, tapi tentu saja harus proporsional karena sama seperti Jokowi, JK juga tokoh bangsa," lanjutnya.
Hensat mendorong agar polemik yang berkembang diselesaikan melalui jalur hukum dan dialog.
"Jadi menurut saya seharusnya satu, proses hukum terus dilakukan, dilaksanakan. Yang kedua, Termul atau relawan yang menyerang Pak JK bisa menggunakan teknologi paling canggih yang diwariskan oleh para pendiri bangsa yang namanya musyawarah," tandasnya.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla didampingi Hamid Awaluddin dan Husain Abdullah saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/04/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sebelumnya JK meluapkan kekesalannya terhadap pihak-pihak yang kerap mendiskreditkan hubungannya dengan Jokowi. Di tengah fitnah yang menyerangnya terkait polemik ijazah, JK mengingatkan kembali peran vitalnya dalam membawa Jokowi ke kancah politik nasional.
"Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi Presiden karena saya. Setuju? Setuju. Tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden," tegas JK secara lugas saat menggelar media briefing di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4) setelah sempat membukanya beberapa jam. Hal ini membuat 2 kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih terjebak.
Meski demikian, Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita menjelaskan saat ini PIS terus melakukan pemantauan terhadap situasi yang ada.
“Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4).
Selain itu, PIS juga terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian dan otoritas berwenang serta terus menyiapkan perencanaan pelayaran yang aman.
Vega menyebut prioritas PIS saat ini adalah aspek keselamatan baik untuk awak sampai muatan yang dibawanya. "Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman,” kata Vega.
Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping Vega Pita memberikan sambutan saat menghadiri Pertamina Goes to Campus di Graha ITS, Surabaya, Rabu (30/10/2024). Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan jalur pelayaran untuk seluruh kapal komersial di Selat Hormuz telah dibuka penuh. Ia bilang jalur tersebut "completely open" setelah adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Namun militer Iran kembali menutup selat tersebut beberapa jam kemudian.
Militer Iran menyatakan keputusan itu diambil lantaran Amerika Serikat (AS) terus memblokade keluar-masuk kapal ke pelabuhan di negaranya.