Pengamat film, Daniel Irawan, menanggapi mengenai kontroversi film Aku Harus Mati. Hal ini terkait billboard yang dipasang di beberapa daerah untuk mempromosikan film tersebut.
Billboard tersebut mengganggu kenyamanan warga. Para netizen meminta billboard film tersebut ditarik karena berbahaya apabila dilihat oleh anak-anak.
"Kita harus punya sensitivitas terhadap apa yang akan kita sampaikan ke masyarakat," kata Daniel kepada kumparan, Sabtu (4/4).
Hana Saraswati menghadiri gala premiere film Aku Harus Mati di Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (26/3/2026). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Pihak Film Harus Bisa Baca Pasar Terkait Pemilihan Judul
Menurut Daniel, apabila menampilkan muka hantu secara close up dan dengan pose mengerikan, bisa membuat masyarakat resah.
Termasuk dalam pemilihan judul, menurut Daniel, pihak film harus bisa membaca pasar dan kebiasaan masyarakat.
Sementara itu, sang sutradara, Hestu Saputra, mengungkap alasan pemilihan judul film 'Aku Harus Mati'. Menurut Hestu, pemilihan judul dalam karya film harus mencerminkan esensi dari cerita yang disajikan kepada penonton. Ia menegaskan pentingnya keterkaitan antara judul dengan plot film.
"Judul itu kan representasi tentang isinya. Dari pilihan bahasa lugas ataupun dengan menggunakan metafor," ucap Hestu.
Billboard film Aku Harus Mati. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Hestu menyebut proses penentuan judul melalui pertimbangan yang cukup panjang hingga 15 judul, sebelum akhirnya diputuskan.
"Judul itu aku sampai 12 bikinnya. Kurang lebih 12 kalau enggak 15," ungkapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar