Sultan Minta Tak Ada Keracunan MBG Lagi, Ceritakan Dapur Umum saat Erupsi Merapi

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sultan Minta Tak Ada Keracunan MBG Lagi, Ceritakan Dapur Umum saat Erupsi Merapi
Sep 26th 2025, 11:19 by kumparanNEWS

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memberi tanggapan saat ditemui di Kantor DPRD DIY, Jumat (19/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memberi tanggapan saat ditemui di Kantor DPRD DIY, Jumat (19/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta agar tak ada lagi kasus keracunan karena Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Hal-hal seperti ini jangan terulang," kata Sultan di acara Gerakan Pangan Murah dan Penyerahan Alsintan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Yogyakarta, Jumat (26/9).

Keracunan MBG ini terjadi di sejumlah daerah di Indonesia termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mengutip data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) per 21 September 2025, jumlah korban keracunan MBG di DIY tercatat sebanyak 1.047 orang, tertinggi setelah Jabar.

Murid menikmati paket makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Sinduadi Timur, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Senin (13/1/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Murid menikmati paket makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Sinduadi Timur, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Senin (13/1/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sultan mengatakan sejak awal dirinya selalu bilang, MBG ini yang memasak siapa. Apakah katering atau diserahkan ke sekolah.

"Di situ mesti ada yang masak, ada yang belanja, ya. Kalau katering, dilihat kapasitas berapa dia setiap hari membuat paket. Kalau paketnya itu hanya 50 porsi, disuruh 100 porsi. Enggak bisa, itu loh," jelasnya.

Ketika kapasitas katering 50 porsi maka mereka akan memasak pada pukul 04.30 WIB. Namun ketika kuotanya ditambah menjadi 100 porsi, katering mungkin akan masak sejak 01.30 WIB. Ini yang menjadi masalah.

"(Masaknya) setengah 2 malam. Dimakan jam 10.00, mesti [pasti] keracunan," bebernya.

"Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan? Enggak usah menggunakan orang kimia, gitu. Masaknya jam 01.30, dimakan jam 08.00 saja sudah mesti wayu (basi). Sudah itu airnya (kuah), disendok begini sudah mulur (lengket memanjang ketika ditarik, tanda tak segar) itu. Sudah itu pasti," kata Sultan yang mengaku juga gemar memasak di rumah.

Pengalaman Dapur Umum Pengungsian

Daerah Istimewa Yogyakarta yang rawan bencana memiliki banyak pengalaman soal penyediaan makanan secara massal. Salah satunya dapur umum ketika bencana Gunung Merapi. Saat itu ratusan ribu orang mengungsi.

"Dan saya punya pengalaman 4 tahun mesti buka pengungsian karena keaktifan Merapi. Mesti duwe (punya) dapur umum. Dari situ itu pun kami mengambil kebijakan berbeda, gitu. Itu satu, nasi wayu (basi) hindari," jelasnya.

"Bisa enggak, jam 02.30 itu jangan masak sayur? Tapi sudah pagi baru masak sayur. Toh, dimakan jam 08.00 atau jam 10.00. Yang lain kira-kira (yang) digoreng dengan masak dan sebagainya, itu didahulukan. Sayurnya di belakang (dimasak paling akhir)," bebernya.

Ilustrasi Gunung Merapi Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto
Ilustrasi Gunung Merapi Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto

Gempa 2006 dan Erupsi Merapi 2010

Sultan berbagi pengalaman saat bencana 2006. Saat itu yang menentukan menu adalah petugas dapur umum.

"Pengalaman saya pernah terjadi di 2006 pada waktu bencana, di mana sebagian kecil ada kami masak untuk dapur umum, yang menentukan lauk adalah dapur. Begitu dimakan, ini makanan tidak enak, ya, buang di halaman. Sudah itu, finish," bebernya.

Namun saat erupsi Merapi tahun 2010 pola diubah.

Korban letusan freatik Gunung Merapi mengungsi. Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Korban letusan freatik Gunung Merapi mengungsi. Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

"Kami tidak menentukan menu makanan, yang menentukan adalah yang mau makan. Ya, mereka musyawarah, kelompok-kelompok itu musyawarah, pagi makan apa, siang makan apa, malam, makan apa," katanya.

"Saya hanya mengatakan, pokoknya ada telur atau daging atau ayam, pokoknya tiap hari, itu harus tiap makan harus ada, terserah variasinya, itu yang diputus, ya. Tidak ada yang dibuang, tapi punya konsekuensi," tegas Sultan.

Pada tahun itu ponsel sudah tersebar luas di masyarakat. Antar-pengungsian pun saling berkomunikasi menu makanan apa tiap harinya.

Pola Masak MBG Harus Diubah

Sultan mengingatkan pola masak MBG harus diubah. Termasuk pula mengolah daging dengan baik.

"Jadi, korban itu tidak akan berkurang selama pola masak-pola masaknya tidak berubah, gitu," katanya.

Media files:
01k5g5dr91dv6fwm1yf1taasfn.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar