Dekan FK Unpad Prof. Dr Yudi Mulyana Hidayat saat menjawab pertanyaan wartawan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kamis (24/7/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unpad Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat mengatakan, banyak peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang lebih nyaman saat bertugas di daerah dibandingkan kota besar, seperti Bandung.
Selama di daerah, para peserta didik mendapatkan pendampingan dari dokter senior yang mengayomi. Terkadang mereka juga diberikan uang insentif atas pencapaian kerja.
"Di Garut, Ciamis dan sebagainya. Kirimlah mereka untuk mendapatkan pembelajaran lebih banyak. Ternyata mereka lebih nyaman di daerah. Kalau di daerah, dokter (senior) spesialisnya baik. Dia kadang-kadang suka memberikan semacam uang insentiflah," kata Yudi saat ditemui di Rumah Sakit Hasan Sadikin Kota Bandung, Kamis (24/7).
Kondisi ini berbanding terbalik dengan proses pembelajaran PPDS di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Yudi mengatakan, di RSHS para peserta didik lebih banyak menemui kasus kesehatan yang lebih kompleks, sehingga mempengaruhi kesehatan mentalnya.
"Wajarlah, karena di sana mungkin dibantu dan sebagainya. Jadi ini rasanya lebih enak, lebih nyaman. Tapi lalu di Hasan Sadikin stress ya. Mungkin itulah karena ini kelasnya tinggi juga penyakitnya dan penyakitnya aneh-aneh," jelasnya.
Dari hasil evaluasi bersama, Yudi mengatakan, Fakultas Kedokteran Unpad akan memperketat proses penerimaan peserta PPDS baru. Salah satunya, memastikan kesehatan mental para peserta didik dalam kondisi sehat. Mengingat beban dokter spesialis cukup banyak.
"Jelas dari hasil evaluasi itu ternyata memang ada beberapa kelemahan. Contohnya saya bicara atas kelemahan di fakultas. Di fakultas mungkin system equipment. Jadi mungkin harus ada pengetatan karena dokter spesialis itu kan bebannya cukup berat," tuturnya
Yudi menjelaskan, pengecekan kesehatan mental ini akan melibatkan psikolog dan psikiater guna mendeteksi kelainan mental atau seksual yang dialami calon peserta didik.
Apabila selama tes kesehatan mental ditemukan kelainan, peserta tersebut akan gugur secara langsung. Yudi mengatakan, hal ini dilakukan untuk menciptakan layanan kesehatan yang bermutu.
"Ya harus ditolak. Karena bukan masalah apa-apa. Nanti masyarakat yang harus kita pikirkan. Jangan sampai dilayani oleh orang-orang yang sebetulnya tidak kompeten di bidang kita," imbuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar