Worldcoin Pernah Eksperimen di Indonesia, Kumpulkan Warga di Sukabumi

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Worldcoin Pernah Eksperimen di Indonesia, Kumpulkan Warga di Sukabumi
May 5th 2025, 13:57, by Tiara Hasna R, kumparanNEWS

Seorang wanita menjalani pemindaian iris mata dengan sebuah bola mata, perangkat pemindai data biometrik, untuk ditukar dengan mata uang kripto Worldcoin di Buenos Aires (22/3/2024). Foto: Juan Mabromata/AFP
Seorang wanita menjalani pemindaian iris mata dengan sebuah bola mata, perangkat pemindai data biometrik, untuk ditukar dengan mata uang kripto Worldcoin di Buenos Aires (22/3/2024). Foto: Juan Mabromata/AFP

Worldcoin, proyek kripto yang digagas oleh CEO OpenAI Sam Altman, gencar berekspansi ke negara-negara berkembang sejak resmi diluncurkan pada Juli 2023.

Namun jauh sebelum peluncuran resminya, proyek ini sudah melakukan uji coba di berbagai negara berkembang, salah satunya Indonesia.

Investigasi yang dilakukan MIT Technology Review pada April 2022 mengungkap bagaimana Worldcoin memulai eksperimennya: menyisir desa-desa, halte, pasar, hingga kampus di negara-negara berpendapatan rendah untuk mengumpulkan data biometrik dari penduduk.

Salah satu lokasi yang disorot adalah Desa Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Di lapangan, perwakilan Worldcoin mendatangi warga dengan perangkat futuristik berbentuk bola logam—disebut Orb—yang digunakan untuk memindai iris mata.

Pemandangan bola mata, perangkat pemindai data biometrik yang digunakan untuk memindai iris mata orang-orang dengan imbalan mata uang kripto Worldcoin, diambil di Buenos Aires (22/3/2024). Foto: Juan Mabromata/AFP
Pemandangan bola mata, perangkat pemindai data biometrik yang digunakan untuk memindai iris mata orang-orang dengan imbalan mata uang kripto Worldcoin, diambil di Buenos Aires (22/3/2024). Foto: Juan Mabromata/AFP

Sebagai imbalan, warga dijanjikan uang tunai, token kripto, bahkan AirPods.

Para petugas juga mengumpulkan email dan nomor telepon peserta. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan membayar pejabat desa agar proses berjalan lancar.

Worldcoin mengeklaim bahwa tujuannya mulia: menyediakan identitas digital global yang bisa diakses siapa saja, dan menjangkau populasi dunia yang belum tersentuh layanan keuangan formal.

Tapi, laporan MIT itu mengungkap kesenjangan mencolok antara pesan publik perusahaan dan kenyataan di lapangan.

Pemasaran yang 'Menyesatkan'

Dari 450 ribu orang yang telah dipindai di 24 negara, 14 di antaranya adalah negara berkembang.

Para responden dari Indonesia, Kenya, Sudan, Ghana, Chili, dan Norwegia, mengaku tidak mendapatkan penjelasan yang cukup soal bagaimana data mereka akan digunakan.

Leona (34), warga Bekasi Timur yang datang ke Ruko Worldcoin di Jalan Insiyur H Juanda, yang telah tutup membonceng anak dan ibunya, Senin (5/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
Leona (34), warga Bekasi Timur yang datang ke Ruko Worldcoin di Jalan Insiyur H Juanda, yang telah tutup membonceng anak dan ibunya, Senin (5/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Banyak dari mereka hanya tahu bahwa pemindaian mata akan memberi imbalan uang. Data Mei 2025, pemindaian per orang akan memperoleh USD 40 atau setara Rp 657 ribu.

Worldcoin juga diduga mengumpulkan lebih banyak data dari yang dijanjikan, termasuk gambar wajah dan tubuh.

Formulir persetujuan data mereka bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa perusahaan "mungkin tidak sepenuhnya mematuhi GDPR"—regulasi ketat perlindungan data Uni Eropa—dan menyebut bahwa memperjuangkan hak privasi di pengadilan AS bisa jadi sulit.

Mantan anggota Parlemen Eropa dan pakar kebijakan siber, Marietje Schaake, menilai dokumen persetujuan itu problematik.

Menurutnya, meskipun Worldcoin mengeklaim patuh GDPR, formulasi dalam dokumen mereka justru mengindikasikan sebaliknya.

Janji Global, Tapi Beban Lokal

Saat itu CEO Worldcoin Alex Blania mengakui proyeknya mengalami "gesekan" karena masih dalam tahap awal.

Namun menurut pengamat dari Universitas Northumbria, Pete Howson, pendekatan Worldcoin mencerminkan praktik "kripto-kolonialisme": eksperimen digital yang dijalankan di masyarakat rentan, hanya karena mereka dianggap tidak punya pilihan untuk menolak.

Di tempat-tempat seperti Kenya, saat itu janji imbalan setara USD 0,5 sudah cukup untuk menarik minat masyarakat menyerahkan data biometrik.

Lebih murah dan lebih mudah menjalankan eksperimen ini di tempat-tempat yang penduduknya miskin dan tak terlindungi secara hukum," tulis laporan MIT.
Co-Founder & CEO OpenAI, Sam Altman di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (14/6/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Co-Founder & CEO OpenAI, Sam Altman di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (14/6/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menurut penelitian 2023 berjudul "Worldcoin: A Decentralized Currency for a Unified Global Economy", fokus Worldcoin pada inklusivitas dan aksesibilitas berpotensi menghadirkan layanan keuangan bagi populasi yang tidak memiliki rekening bank dan kurang memiliki rekening bank, terutama di negara-negara berkembang.

"Dengan menyediakan akses ke alat dan sumber daya keuangan, Worldcoin dapat memberdayakan individu dan komunitas," tulis penelitian tersebut.

Data perusahaan World menyebutkan, saat ini lebih dari 12 juta orang di dunia telah menerima pemindaian Orb. Total pengguna aplikasi World telah mencapai 26 juta, tersebar di lebih dari 160 negara.

Pada Minggu (4/5), Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia memutuskan membekukan sementara Tanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik (TDPSE) Worldcoin dan WorldID menyusul pengakuan seorang warga Bekasi yang mengaku menerima bayaran Rp800 ribu setelah iris matanya dipindai oleh Orb.

Media files:
01jtfbd50qqt1gz82awptkckb4.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar