Alasan RS Indonesia di Hebron Tepi Barat Palestina Belum Dapat Dibangun

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Alasan RS Indonesia di Hebron Tepi Barat Palestina Belum Dapat Dibangun
Nov 6th 2023, 22:56, by Fachrul Irwinsyah, kumparanNEWS

Konferensi Pers MUI mengenai penyerahan bantuan kemanusiaan untuk Palestina dari Aksi Akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina di kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/11).  Foto: Fadlan/kumparan
Konferensi Pers MUI mengenai penyerahan bantuan kemanusiaan untuk Palestina dari Aksi Akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina di kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/11). Foto: Fadlan/kumparan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana membangun Rumah Sakit Indonesia di Hebron (RSIH), Tepi Barat, Palestina. Namun hingga kini rencana itu belum terwujud.

Padahal dana untuk pembangunan rumah sakit itu sudah dihimpun sejak 2021 nilainya mencapai Rp 23 miliar. Dana bersumber dari berbagai kalangan termasuk dari Ustaz Adi Hidayat.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, mengungkap alasan rumah sakit tersebut belum bisa terbangun hingga saat ini.

"Karena di Hebron itu ada kesulitan-kesulitan teknis terkait dengan pemerintah, waktu itu urusannya dengan Menteri Kesehatan di Palestina, maka ini agak ditunda (pembangunan RS Indonesia di Hebron) sampai ada kejelasan lebih lanjut. Sampai munculnya peristiwa ini (perang di Gaza)" jelas Sudarnoto di kantor MUI, Jakarta Pusat, Senin (6/11).

Sudarnoto menuturkan harusnya rumah sakit tersebut sudah dibangun tahun ini. Bahkan ia sudah melihat lokasi tempat rumah sakit itu akan dibangun.

"Saya sudah ke sana, Hebron, untuk melihat lokasi (pembangunan RS Indonesia). Sebelum puasa saya kemarin kesana dengan beberapa pengurus HLN-KI (Hubungan Luar Negeri Indonesia dengan MUI) ketemu walikota, karena sebelumnya itu kerja sama MUI dengan walikota Hebron. Kita sudah rapat. Tinggal eksekusi," kata Sudarnoto.

"Tapi ternyata di pihak Palestina ada kendala birokrasi, kita harus menunggu. Ternyata belum selesai," tambahnya.

Karena belum juga rampung masalah birokrasi tersebut, MUI memutusakn mengalihkan dana Rp 23 miliar yang terkumpul untuk pembangunan rumah sakit menjadi bantuan kemanusiaan korban konflik Hamas-Israel di Gaza, Palestina. Sudarnoto mengatakan pengalihan tujuan penggalangan dana tersebut sudah dibicarakan dengan para donatur termasuk Ustaz Adi Hidayat.

Warga Palestina mencari korban usai serangan Israel di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Rabu (1/11/2023).  Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS
Warga Palestina mencari korban usai serangan Israel di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, Rabu (1/11/2023). Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS

"Komunikasi dengan Ustaz Adi Hidayat juga sudah dilakukan. Bagi Ustaz Hidayat gak apa-apa ini kan memang soal kemanusiaan, di Hebron juga kan soal kemanusiaan," jelasnya.

MUI akan menyalurkan dana kemanusiaan itu melalui Baznas. Dana bantuan akan digabung dengan yang dikumpulkan saat Aksi Bela Palestina di Monas, Minggu (5/11).

Pimpinan Baznas, Rizaludin Kurniawan, yang hadir saat konferensi pers menjelaskan mekanisme pengalihan dana pembangunan rumah sakit tersebut menjadi dana bantuan kemanusiaan.

"Kami akan melakukan perhitungan bagaimana sebelumnya dana yang Rp 23 miliar ini apakah sudah keluar atau tidak," tutur Rizal.

"Lalu kami akan juga ada perjanjian khusus antara Baznas dan MUI begitu terkait dengan bagaimana pengelolaannya, bagaimana penyalurannya, dan bagaimana pelaporannya atas dana yang khusus sebelumnya RSIH Hebron," tambah dia.

Cerita Rencana Pembangunan RSIH

Sudarnoto menceritakan bagaimana awalnya MUI berencana membangun rumah sakit di Hebron.

"Sebenarnya dulu ceritanya Wali Kota Hebron itu datang ke Indonesia. Itu sekitar tahun 2018 atau 2019. Masyarakat ada beberapa orang di Hebron itu mewakafkan tanahnya," kata Sudarnoto.

Tanah yang diwakafkan tersebut diniatkan untuk dibangun sebuah Rumah Sakit Indonesia, sebab di Gaza sudah terbangun Rumah Sakit Indonesia.

"Karena sebetulnya kebutuhan Palestina itu memang rumah sakit, itu mendesak sekali memang. Begini, rumah sakit yang sudah ada di sana itu diskriminatif. Kalau ada orang arab Palestina, kemudian ada orang Israel, itu pasti didahulukan orang Israel," jelas dia.

"Jadi apartheidnya itu ketara sekali. Sehingga mereka-mereka yang warga Palestina yang membutuhkan pengobatan cepat itu enggak bisa dilayani karena diskriminasi itu. Nah ini menggugah kita untuk bergerak itu," sambungnya.

Rencananya, pembangunan RS Indonesia di Hebron itu dimulai pada tahun ini. Tapi karena terkendala birokrasi maka tertunda. Ada juga yang mengusukan untuk membuat hospital mobile.

"Ya, untuk darurat karena harus bergerak. Tapi ini belum diputuskan, saya kira akan ada rapat segala macam, kita tunggu keputusan MUI dan Baznas. Beberapa negara lain juga sebenarnya bikin rumah sakit juga, saya dengarnya begitu," pungkas dia.

Media files:
01heja4am2kz0w91yb0rm9rj9z.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar